Ruang Tunggu

NB:
Kusebut Ruang Tunggu karena aku seperti berada di ruang tunggu, menunggu giliran untuk mengambil keputusan dan melakukan aksi.

 

Mencapai Mimpi
Kukatakan, aku adalah pelacur mimpi. Kalau bosan aku berkamuflase, kalau punya tujuan aku bunuh diri. Bukan sekali dua kali, berkali-kali sudah kulakukan percobaan bunuh diri.

Sungguh aku tak putus asa, semakin gagal semakin penasaran rasanya. Dan seperti yang selalu diajarkan, aku selalu belajar dari kesalahan. Sampai pada suatu titik aku mendapatkan pencerahan dan lantas menyimpulkan bahwa kegagalan ini terjadi bukanlah karna kesalahan akan proses perhitungan, atau salah menjumlahkan. Kegagalan ini terjadi karena ada  satu variabel yang hilang dari setiap percobaan. Variabel paling mendasar yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil akhir yang benar, sebuah “pabrik senjata”. Bayangkan, dengan variabel ini di dalam persamaan pun kau masih bisa gagal menghitung dan mendapatkan hasil yang salah.

Oleh karena itu, kutambahkan variabel yang hilang ini dalam persamaan. Tapi seperti halnya setiap variabel lain dalam persamaan, variabel ini tidak serta merta bisa diturunkan dari langit. Ada persamaan yang dibutuhkan untuk mendapatkan variabel yang hilang ini.

 

Jalan Pintas
1 Januari 2013 adalah waktu yang sudah kutetapkan untuk meluncurkan serangan udara merubah warna langit yang biru menjadi mejikuhibiniu. Kalau ini terjadi, kupastikan pemuda-pemudi terjatuh dan lantas menari riang bersorak sorai bergelimpang dosa.

Karna alasan kesakralan dan aturan main, maka hanya ini lah yang bisa kukatakan tentang jalan pintas yang hendak kuambil. Singkatnya, kegiatan meluncurkan serangan udara merubah warna langit menjadi mejikuhibiniu ini adalah persamaan yang kumaksudkan untuk mendapatkan variabel yang hilang dari perhitungan persamaan  menciptakan pabrik senjata diatas. Persamaan yang sangat singkat untuk jiwa yang malas.

 

Nyumpena Di Bali
Pernah kunyatakan dengan cara spesifik pada sobatku Andra Mega, bahwa pekerjaanku akan membawaku menginjak kan kaki di benua lain. Tak lama berselang kunyatakan pada mamaku dengan cara yang sama, bahwa aku akan menyaksikan konser live Paul McCartney (The Beatles) langsung dengan kedua mataku.

Sedikit cerita tentang kenapa The Beatles menjadi begitu penting untuk dijadikan tolak ukur.
Jauh sebelum aku lahir, bahkan sebelum mama menikah dengan pria paling beruntung nomor 2 sedunia-papaku, beliau membeli dan mengoleksi album kaset The Beatles dan John Lenon. Tujuannya adalah agar pria yang paling beruntung nomor 1 di dunia-yaitu aku, bisa menikmati musik yang disukainya itu. Dan dengan harapan lebih jauh lagi, si “bakal calon anak” kelak bisa menyaksikan konser The Beatles. Setidaknya mewakili dirinya menikmati perasaan berada di konser musik band termasyhur sedunia itu.

Pernah pula kukatakan dengan bercanda, tapi masih menggunakan cara yang sama. Kukatakan pada beberapa orang sahabatku sekaligus (Abdul Hamid Nawawi, Ardie Liwan, Muhamad Irfani Sahnur, Hazel Fredreck Botu dan Trijito Santoso), bahwa aku pengen punya suatu barang ciamik: Wacom Cintiq 24 inci.

Dan terakhir, di tanah penuh mimpi ini pula lah, bersama dengan sahabat-sahabatku, keinginan membuat “pabrik senjata” terlahir. Dan sejak saat itulah aku mulai kehilangan akal sehat dan terus mencoba bunuh diri.

NB:
Tujuan kucantumkan nama-nama diatas adalah sebagai pengingat untuk diri sendiri juga sebagai pengingat kepada pribadi yang tersebut namanya.

 

Law of Attraction
Aku percaya, bahkan pergerakan pada unsur terkecil yang ada di alam raya ini terjadi sedemikian rupa oleh karena kuasaNya, namun manusia bebas berkehendak. Sungguh ini adalah konsep luar biasa–Walau aku pernah terjerembab dalam ketidak percayaan, salah satunya adalah karena konsep ini.

Alam Raya sungguh luar biasa, sementara otak manusia di rancang sangat terbatas. Itulah masalah.

Tapi menerima konsep ini adalah dasar dari segala dasar.

NB:
Kadang aku masih suka iseng menirukan aksi Maria Mercedes di telenovela. Dengan muka murung, menatap ketas langit sambil mengangkat dan mengguncang kedua telapak tangan bertanya, “Por qué??????”

 

Konspirasi Alam Raya
Apa yang kunyatakan dengan cara spesifik, satu persatu mewujud. Aku menyaksikan Paul McCarney (PMC) beraksi di benua lain, langsung dengan kedua mataku.

Dan kemarin sore, hari kamis tanggal 22 November 2012, sesaat sebelum keluar kantor untuk minum kopi bersama Seseorang di lantai 39–ya, ini memang perlu dicantumkan dan ditekankan untuk menunjukkan betapa pentinnya kegiatan minum kopi yang akan kulakukan ini, aku dipanggil paksa oleh atasanku dikantor untuk mengikuti meeting yang sudah berlangsung lama dan ini diluar urusanku. Aku hadir diakhir meeting, semua terjadi begitu cepat dan singkat. Sebagai penutupan, aku diberi tugas untuk bereksperimen membuat “sesuatu” dengan mesin bernama, Wacom Cintiq 24HD Touch.
Sungguh berikutnya adalah sebuah kegiatan minum kopi terindah yang pernah kurasa sampai saat ini.

NB:
Wacom Cintiq 24HD Touch – yang ini jauh lebih canggih dari yang dulu pernah kubilang. http://www.wacom.com/products/pen-displays/cintiq/cintiq-24hd-touch

 

Kebali ke Jalan Pintas Mencapai Mimpi
Biar sok keren, ecek-eceknya beginilah persamaan yang sok sederhana itu,

Ps = Xv / (Ov * E + t)

Atau,

Xv = Ps * (Ov * E + t)

Dimana:
Ps, adalah Pabrik Senjata
Xv, adalah Variabel-X
Ov, adalah Variabel-O

Diketahui:
Ov, s, E, dan beberapa variabel lain untuk mencari Xv.

Dicari:
Ps = ?

Sehingga:
Untuk mendapatkan PS, sebelumnya kita harus mencari Xv terlebih dahulu. Dan dalam rangka mendapatkan Xv inilah aku terjebak dalam dilematika. Antara menurunkan persamaan yang benar dengan mengorbankan banyak hal materil, atau mengambil jalan pintas dengan konsekuensi banyak jiwa dan hati yang akan terluka.

 

Law of Attraction dan Konspirasi Alam Raya Bekerja
Konser PMC di benua lain, dan mesin canggih Wacom-Cintiq, seolah ingin menyampaikan pesan padaku untuk lantas membatalkan serangan udara sebagai jalan. Tapi mendapatkan Variabel-X dengan jalan pintas ini adalah pasti dan sangat cepat, tak ada yang perlu diragukan lagi.

Lantas dimana harus kuletak kan kepercayaanku, pada diriku sendiri atau pada Semesta Alam?
Haruskah aku berucap syukur? atau berdoa, “ampuni kami Tuhan, kami tidak tau apa yang kami perbuat”?

Belum kuputuskan. Tapi sebagai perenungan untuk diri sendiri kubaca berulang-ulang kutipan ini,

Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat – Yesus Kristus.

 

 

Note untuk Sobatku Irfani (yang sore ini berangkat ke Bandung melaksanakan tugas mulia):
Kau betul Fan. Bahwa untuk membuat satu senjata handal kita gak butuh Variabel-X ini, melainkan hanya Variabel-O dan variabel-variabel lainya. Tapi keinginanku bukan membuat satu senjata handal wak, aku mau buat pabriknya. Aku hendak membangun sebuah kejutan besar.

Note tentang sebuah rencana besar.

Advertisements