Waktu: Minggu, 13 November 2011
Lokasi: Commissary (Swalayan atau toko sandang pangan di Duri Camp)
Aktor nomor 1: Kasir di commissary yang selanjutnya kita sebut sebagai ‘Mbak Ayu’. Hari ini dia berjilbab putih, baju kaos lengan panjang warna kuning pucat, dan seperti biasa: cantik tanpa make-up.
Aktor nomor 13: Preman Pasar. Hari ini dia sok rajin masuk kerja dengan niat menyelesaikan pekerjaan untuk seminggu kedepan. Dia berkaos putih bertuliskan ‘Balicamp’, celana jeans pendek dengan sepatu running warna putih. Dan seperti biasa dia naik sepeda.
“Selamat pagi mas, ini aja belanjanya?”, si Mbak Ayu menyapa sekaligus bertanya ramah pada si Preman Pasar.
“Iya itu aja mbak”, si Preman Pasar menjawab dengan gaya ‘sok cool-nya’, padahal kalau dia liat ke cermin tampangnya udah macam orang yang sedang nahan boker.
“Semuanya tiga-puluh-satu-ribu mas”, Ucap si Mbak Ayu sambil tersenyum lebih manis, berusaha membalas kecutnya muka si Preman Pasar–yang merasa tampangnya udah paling ganteng se-jagad raya.
Preman Pasar mengambil dompet dari kantong celana bagian belakang, membukanya dan mengambil selembar kertas uang pecahan lima puluh ribu dari dalamnya dengan sok pasti, menyodorkannya pada Mbak Ayu sambil berkata, “Mata kamu indah, boleh kenalan?”
Si Mbak Ayu yang tadinya berniat mengambil uang kertas lima puluh ribu dari tangan si Preman Pasar tiba-tiba jadi kaku, gak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Disisi lain, si Preman Pasar yang sangat percaya diri melanjutkan perkataannya. Kali ini makin lantang bicaranya, “Saya udah lama memperhatikan kamu. Menurut saya kamu adalah perempuan yang paling cantik yang pernah saya liat disini”.
Si mbak ayu jadi makin kaku, sama sekali gak bergerak: jadi batu.
Sungguh si Preman Pasar gak sadar diri, dikiranya dirinya Casanova, “Sumpah deh gak bohong.” sambil memasang wajah sok tulus sok serius–padahal (lagi-lagi) kalau di direkam kamera, video dengan tampang si Preman Pasar ini bisa dijadikan iklan Bakti Husada-Departemen Kesehatan RI untuk tema ‘Safety Sex’: Korban Penyakit Raja Singa.
Seluruh commissary yang dipenuhi para pelayan dan pelanggan yang mendengar jelas ‘rayuan mawut’ si Preman Pasar itu jadi terdiam, seluruh ruangan commissary mendadak sunyi-senyap: mirip kuburan. Tapi tak lama kemudian kembali pula semuanya serentak tertawa terbahak seperti sedang menonton lawakan si Sule dan kawan-kawan di studio OVJ.
Sekarang semua mata dan mulut yang tertawa tertuju pada si Preman Pasar. Dan ini membuat si Preman Pasar sadar bahwa ‘gombal mawut’ nya gagal total, dia jadi malu dan lantas berniat buru-buru kabur keluar commissary.
Mirip pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Beberapa langkah setelah keluar dari pintu commissary, hujan turun dengan teganya, membasahi Preman Pasar dengan muka yang berubah dari muka malu menjadi muka kesal dan berang (yang mungkin secara alami berganti untuk menutupi rasa malu yang tak bisa ditahan lagi). Cepat diraihnya sepedanya, dan dikayuhnya sekuat tenanga. Gak perduli hujan lebat yang membasahi, gak perduli rasa sakit yang didera pahanya karna mengayuh pedal sepeda tanpa henti. Preman Pasar berusaha pergi sejauh mungkin dari commissary.
Kasian bener si Preman Pasar jagoan kita. Tapi cerita aslinya gak gitu, hehee.. Ini yang sebenarnya:
“Selamat pagi mas, ini aja belanjanya?”, si Mbak Ayu menyapa sekaligus bertanya ramah pada si Preman Pasar.
“Iya itu aja mbak”, si Preman Pasar membalas sambil tersenyum.
“Semuanya tiga-puluh-satu-ribu mas”, Ucap si Mbak Ayu sambil senyum manis lagi.
“Okey, ini mbak”, si Preman Pasar menyodorkan selembar uang lima puluh ribu sebagai bayaran belanjanya.
“Maaf, sebentar mbak,” si Preman Pasar tiba-tiba menarik tangannya ketika si Mbak Ayu berusaha mengambil uang bayaran itu. Membuat si Mbak Ayu mengalihkan pandangan dari selembar uang lima puluh ribu menuju kedua mata si Preman Pasar.
“Begini.., sebenarnya saya udah lama pengen kenalan dan pengen mendekati mbak”, Preman Pasar melanjutkan.
“Tapi saya selalu ingat perkataan mama saya. Katanya, ‘Kalau beda agama, sebaiknya jangan’”, Preman Pasar berusaha berbicara pelan sambil membalas tatapan mata Mbak Ayu dengan tenang.
“Tapi saya sungguh ingin berkenalan dengan mbak. Minimal hanya sekedar tau siapa nama mbak sebenarnya”.
Si Mbak Ayu diam terpaku. Gak bereaksi apa-apa tapi masih mencoba menyimak perkataan si Preman Pasar.
“Kalau boleh, saya pengen kenalan dengan mbak. Saya Ardi, Ardi Karta”, lanjut Preman Pasar sambil memberikan telapak tangannya kepada si Mbak Ayu.
“Saya.. nama saya Sari.., Munawirus Sariroh”, balas Mbak Ayu yang sempat terdiam sejenak sampai akhrinya benar-benar menangkap niat si Preman Pasar untuk berkenalan sambil berjabat tangan.
Preman Pasar yang akhirnya mengetahui nama asli si Mbak Ayu pun tersenyum senang. ”Sari.. Terimakasih sudah mau berkenalan.” Ucapnya sambil menggenggam lembut tangan perempuan yang udah lama ditaksirnya itu.
“Iya sama-sama terimakasih mas”, balas Mbak Ayu yang turut tersenyum membalas ucapan Preman Pasar.
“Sampai ketemu lagi ya Sari,” Preman Pasar menarik pelan tangannya, memberi isyarat pada Mbak Ayu untuk melepas genggamannya.
Tiba-tiba dari atas atap commissary terdengar suara tetesan air tanda-tanda hujan, semua orang metap keluar ruangan: hujan turun sangat lebat. Si Preman Pasar terjebak, dan terpaksa tetap di dalam commissary.
“Ehemm, ada yang kenalan hujan-hujan.. Ciee.. suit-suittt…,” sura sumbang teman kerja si Mbak Ayu malah menggoda, membuat warna pipinya jadi merah merona. Suasana jadi berasa canggung dan membuat Mbak Ayu jadi tidak nyaman. Tapi Preman Pasar yang menyadari kondisi ini segera mengambil tindakan memecah kecanggungan.. “Ayo siapa yang mua kenalan lagi, ayo sini saya salami satu-persatu mumpung masih hujan,” sambil menjulurkan tanggannya ke semua orang. Semuanya tertawa, suasana kembali mencair, dan cerita pun berakhir ceria.
Senang betul si Preman Pasar jagoan kita ternyata endingnya bahagia, hehee.. Tapi tunggu!
Cerita aslinya gak gitu, Ini dia yang se-benar-benar-nya terjadi:
Sampai tulisan ini di buat, si Preman Pasar ternyata masih terbaring malas diatas kasurnya: Gak ke gereja, gak belajar, apalagi berkarya. Hari ini si Preman Pasar gak berbuat apa-apa. Sungguh sangat disayangkan, padahal hari ini mungkin aja jadi hari besar baginya. Seandainya dia bangkit dari kemalasannya, seandainya hari ini dia belajar, berkarya atau mungkin hanya sekedar jogging berolahraga–lantas bisa beristirahat sejenak untuk membeli sebotol air mineral di commissary dan bertemu dengan si Mbak Ayu berjilbab putih: perempuan yang udah lama ditaksirnya itu. Sungguh seandainya..
Tulisan bagus, kawan!